Sabtu, 05 Mei 2012

Citarasa Kopi Rp 2 juta per Kilogram














BONDOWOSO – Salah satu cita rasa khas kopi Indonesia yang dikenal hingga manca negara adalah Kopi Luwak. Biji kopi hasil fermentasi alami yang dilakukan binatang bernama Luwak (musang, Red.) itu, begitu dikenal karena mampu memberikan positioning tersendiri bagi produk kopi asal Indonesia ini. Selain cita rasanya yang khas, juga harganya yang selangit. Rp 2 juta per kilogram, barangkali tak ada duanya di dunia harga sekilo kopi bubuk, jika bukan Kopi Luwak.

Persoalannya, selama ini produksi kopi luwak belum mampu maksimal, karena sangat bergantung oleh binatang itu. Dalam area perkebunan biji kopi hasil fermentasi musang itu seringkali baru bisa ditemukan 2-3 hari. Oleh sebab itu salah satu cara yang dilakukan oleh PTPN 12 adalah dengan menangkarkan luwak sehingga produksinya bisa dioptimalkan.

“Selama ini kendala kopi luwak adalah permasalahan lokasi biji kopi hasil fermentasi dari luwak yang kadang ditemukan di kebun bisa sampai dua tiga hari baru ditemukan. Belum lagi kepastian apakah yang ditemukan itu hasil fermentasi luwak atau tidak, karena yang memakan kopi bisa saja monyet ataupun tikus.” ujar Ardi Iriantono, Manager kebun Kalijampit.

Ardi mengatakan, untuk mengantisipasi hal-hal demikian maka pihaknya melakukan cara baru dengan menangkarkan musang. Penangkaran ini merupakan solusi terhadap ketidak pastian yang menjadi kendala kopi luwak. 

Sampai saat ini PTPN 12 telah memiliki 600 ekor luwak yang dipelihara di empat kebun, yang dikhususkan untuk memproduksi kopi luwak. Empat kebun tersebut yaitu Kalisat Jampit, Blawan, Pancor, dan Kalimas. Tahun 2010 kemarin produksi total kopi arabika yang digunakan sebagai bahan dasar kopi luwak mencapai 2.520 ton.

Harga kopi luwak di pasaran sangat tinggi. Harga untuk green bean kopi luwak per kilogramnya mencapai Rp1,3 juta, sementara untuk kopi luwak yang sudah dalam bentuk sangrai per kilogramnya Rp1,9 juta, dan yang sudah menjadi bubuk kopi harganya bisa mencapai Rp2 juta per kilogram.

Setyo Wilianto, manager Unit Industri Hilir PTPN 12 menambahkan, selama ini sebagian besar kopi luwak arabika produksi PTPN 12, 90% untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun PTPN 12 mulai menargetkan pasar ekspor ke luar negeri, terutama di Asia.

“Sekitar 90 persen kita masih memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama di outlet kami. Di kafe-kafe kami seperti Ijen cafĂ©, di mal Surabaya sudah ada di Tunjungan Plaza, di City of Tomorrow, di kampus Unair dan juga di Pasar Krampung Plaza. Produk kami juga digunakan oleh berbagai kafe lain yang menjual kopi luwak,” ujarnya.

“Kita juga mulai merintis kopi luwak masuk ke Korea, karena sudah ada permintaan dari sana. Salah satu perusahaan besar Korea sudah datang ke kami untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut. Kopi luwak yang beredar di sana rasanya tidak ada yang sama, oleh sebab itu kami menawarkan kopi luwak asli,” imbuhnya.
Selama ini PTPN 12 pernah mengekspor kopi luwak ke beberapa negara di Asia seperti Jepang dan China dan juga ke Eropa. “Kita sudah pernah mengekspor ke luar seperti China dan Jepang. Sementara ekspor ke Eropa tapi masih dicoba,” sambungnya.

Terkait kompetitior kopi luwak Setyo tidak khawatir. Ia mengatakan selama ini kompetitornya hanyalah para pengepul yang mengumpulkan kopi dari para petani di kebun. Beda halnya dengan pihaknya yang sudah meproduksi kopi luwak secara sistematis dengan penangkaran. “Kita lebih terjamin kualitasnya,” tandasnya. m24

Cuptaster Kopi Luwak PTPN 12: Sssep… Cklak! Pak Dugel....















Dugel Hariyadi menyesap sesendok kopi dengan cepat. Cairan hitam itu meghantam cepat dinding-dinding langit rongga mulutnya, dan menyelimuti lidahnya. Suara keras itu berasal dari lidah yang dibenturkan ke dinding rongga mulut. Dan, saya cuma ternganga, melihat gaya sesap Dugel.

Saya bukannya tak paham uji organoleptik. Semasa saya kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, uji ini sudah sangat dikenal. Ini uji cita rasa, aroma, serta tekstur sebuah komoditas olahan pasca panen. Namun tetap saja, saya terkesan melihat seorang profesional melakukan uji organoleptik terhadap berbagai jenis kopi.

Saya bertemu Dugel Hariyadi di laboratorium mutu Kebun Kalisat Jampit, PT Perkebunan Nusantara 12, Desa Jampit Kecamatan Sempol, Bondowoso, Jumat (24/6/2011) lalu. Dia salah satu asisten teknis pengolahan. Salah satu tugasnya mencicipi cita rasa kopi, terutama kopi luwak, untuk menentukan gradasi mutu.

“Ada empat orang (yang memiliki kemampuan organoleptik) dan sudah mendapat sertifikat dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia,” kata Dugel. Ia sendiri sudah menjadi penguji kopi sejak tahun 2000.
Menjadi penguji organoleptik kopi tak mudah. Ini tak ada urusan dengan selera, tapi mendefinisikan aroma dan cita rasa kopi dengan lidah dan hidung. Sebuah proses yang ganjil, karena menyilangkan proses kualitatif menjadi kuantitatif. Dugel butuh waktu setahun untuk belajar, dan dua tahun untuk menjadi lebih mahir.
“Yang membedakan antara kopi luwak dengan kopi biasa adalah aftertase (rasa yang tersisa di lidah). Kalau diibaratkan begini: jika kita minum kopi biasa, perjalanan dari sini sampai Bondowoso, cita rasa itu hilang. Tapi kalau kopi luwak, cita rasanya bisa terbawa sampai Surabaya. Jadi lebih lama,” kata Dugel.
Kopi luwak Arabika dan robusta pun berbeda. “Kopi luwak robusta lebih kuat di body (kesan), Arabika lebih kuat di acidity,” kata Dugel.

Hari itu, saya mencoba apa yang dilakukan Dugel. Saya sedang flu, jadi rasanya semua kopi yang diuji tak beda jauh. “Memang tak boleh pilek, karena dalam organoleptik ada tahapan untuk membau. Kita juga tak boleh merokok dan jangan sering makan pedas,” kata Dugel.

Kisah Kopi Luwak PTPN 12: Memanen Jutaan Rupiah dari Perut Pak Raden

Bondowoso (beritajatim.com) – Inilah komoditas kopi andalah PT Perkebunan Nusantara 12, sejak tahun 2007: kopi luwak. Kopi ini diakui dunia, dan tercatat sebagai kopi dengan harga mahal dibandingkan kopi jenis lain di Indonesia.

Harga green bean kopi luwak Rp 1,3 juta per kilogram, Sementara untuk kopi yang sudah disangrai mencapai Rp 1,9 juta per kilogram, dan kopi dalam bentuk bubuk dijual dengan harga Rp 2 juta per kilogram.

Kopi ini masuk dalam jenis kopi khusus (specialty coffee). Fermentasi biji kopi terbaik terjadi di dalam perut hewan bernama latin paradoxurus Hermaphroditus ini. “Ada enzim dalam perut luwak, sehingga kotorannya tak mengandung bakteri E. Coli yang bisa memicu diare. Luwak juga memilih kopi yang benar-benar masak,” kata Setyo Wuryanto, Manajer Unit Usaha Industri Hilir PTPN 12, di sela-sela pelaksanaan edukasi media (24/6).

Pasar kopi luwak terus tumbuh, dan ini membetot perhatian manajemen PTPN 12. Persoalannya, sulit memproduksi kopi ini dalam jumlah besar, jika hanya mengandalkan cara alamiah: mengumpulkan biji-biji kopi dalam kotoran luwak yang tersebar di area kebun.

“Dari sisi higientitas, ini jelas tak higienis. Kedua, bagaimana kita tahu kalau ini benar-benar kotoran luwak, dan bukan kotoran hewan lainnya,” kata Ardi Iriantono, Manajer Kebun Kalisat-Jampit.

Manajemen PTPN 12 memutuskan untuk mengandangkan 600 ekor luwak di empat kebun, yakni Kalisat Jampit, Blawan, Pancor, dan Kalimas. Semua kebun itu memproduksi kopi Arabika. Dan, Jumat (24/6/2011) lalu, adalah kunjungan saya kedua kalinya ke rumah ‘herr musang’, tempat dikandangkannya musang-musang itu di Kebun Kalisat Jampit Afdeling Kampung Baru setelah dua tahun silam.

Dua tahun silam, bulan Oktober, saya datang pada hari Jumat pula ke rumah ‘herr musang’. Herr adalah bahasa Jerman untuk ‘tuan’ atau ‘pak’. Saya mengenal sebutan ini dari seorang pensiunan direktur utama sebuah perusahaan perkebunan.

Sebagaimana dua tahun silam, saya bertemu Hadi Santoso, salah satu pekerja di tempat itu. “Apa kabar, Pak,” saya menyapanya.

Dibandingkan dua tahun silam, tak banyak yang berubah dari kandang luwak-luwak itu. Di sini 120 ekor luwak dipelihara. Kini di setiap kandang ada nama masing-masing musang dan simbol jenis kelamin mereka. Saya masih ingat, dulu Sebagian nama luwak terinspirasi nama tokoh utama sinetron.

Bahkan, ada musang bernama Rossi saat itu, yang namanya terinspirasi nama pembalap Grand Prix 500 asal Italia, Valentino Rossi. “Dia sering mengejar-kejar juga,” kata Hadi kala itu, menyebut kegesitan Rossi mengingatkan pada kecepatan Valentino Rossi di atas sirkuit balap.

Saya lupa bertanya kepada Hadi apakah Rossi masih ada. Memasuki usia 4-5 tahun, musang biasanya mudah sakit, seperti disentri. Sakit ini bisa jadi dipicu stres, sehingga musang yang sakit langsung dilepas ke alam bebas sebelum mati di kandang.

Hadi membuka kandang nomor 8, dan mengeluarkan seekor luwak jantan bernama Raden. Saya tak perlu bertanya, saya duga namanya terinspirasi salah satu tokoh sinetron yang terkenal itu. Si Raden sudah mulai masuk kandang sejak 2008 setelah dibeli seharga Rp 100 ribu dari warga sekitar.
“Rata-rata luwak di sini memang dibeli dari warga. Harganya sekitar Rp 150 ribu per ekor. Selama empat tahun mereka masih produktif. Selain dikasih makan pisang dan pepaya, juga dikasih minum konsentrat susu,” kata Ardi Iriantono.

Tak mudah menernakkan sendiri luwak. Pasalnya, bayi luwak sering dimakan pejantan sendiri, begitu lahir. Luwak bisa ‘memproduksi’ kopi berkualitas bagus pada usia 2-5 tahun. Produksi kopi dari perut luwak jantan lebih banyak daripada produksi dari perut luwak betina. Namun kualitasnya sama. Jika musim kopi lewat, luwak-luwak itu diberi makan apa saja: bisa stroberi, bisa nasi.

saat musim panen kopi pada Juni sampai Agustus, setiap pagi biji-biji kopi yang belum dikupas diletakkan di atas wadah tempeh dan ditempatkan di tiap kandang luwak. Keesokan paginya, pekerja kebun tinggal mengambil kotoran luwak yang berisi biji-biji kopi yang sudah terkelupas, dan teronggok di atas tempeh tersebut.

Seekor herr musang bisa berak empat ons biji kopi. Dari hasil penangkaran 2-3 minggu, maksimal setiap ekor luwak bisa makan 2,5 kilogram gelondong kopi. Jadi hasil kopi luwak basah 1 kilogram 2,5 ons. Tapi itu juga tergantung dari nafsu makan sang luwak.

Rasa sepat dan asam kopi luwak lebih menonjol dibandingkan kopi jenis biasa, yang dipanen dan dikupas dengan tenaga manusia atau mesin. Kualitas kopinya pun bagus, karena memiliki kemasakan optimum.
Kini, si Raden berusaha menyambar pisang yang dilambai-lambaikan Hadi. Tak menanti lama, aksi si Raden menjadi sasaran bidikan para wartawan yang berkunjung ke kandang itu.

Saya teringat cerita, tentang salah satu wartawan asing yang menanyakan eksploitasi musang untuk kepentingan bisnis itu. Petinggi PTPN 12 sempat deg-degan mendengar pertanyaan itu. Namun, ternyata sang wartawan tak ‘menyerang’ PTPN 12. Luwak memang telah masuk dalam rantai ekonomi manusia. Namun justru dengan masuknya mereka dalam rantai kapitalisme ini, ada upaya melakukan konservasi terhadap luwak.

Tentu tak ada yang ingin kehilangan jutaan rupiah dari perut Pak Raden, jika Pak Raden dan kawan-kawannya langka dan perlahan musnah, bukan? [wir]
sumber : beritajatim.com/hil-n12

Kopi Luwak PTPN XII Diminati Korea, 90% untuk Penuhi Dalam Negeri

Surabaya-Kopi Luwak PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII semakin diminati pasar asing. Setelah Jepang, China, dan Eropa, kali ini market Korea kepincut  dengan kopi yang proses fermentasinya di perut luwak itu.



Sekretaris Perusahaan PTPN XII, Herry Purwanto, mengatakan market kopi luwak hingga saat ini masih dikuasai lokal. Artinya, 90% produksi kopi luwak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Ekspornya masih sangat sedikit. Tidak lebih dari 10%”, ungkap Herry akhir pekan lalu.

Dijelaskannya, kopi luwak PTPN XII diproduksi di sejumlah kebun. Diantaranya kebun Kalisat-Jampit dan Blawan, Bondowoso. Di kebun ini ada 600 ekor luwak yang siap memakan setiap biji kopi, lalu mengeluarkannya kembali bersamaan dengan kotorannya.

“Sementara ini kita belum ada rencana menambah jumlah luwaknya. Karena hewan ini sudah mulai sulit didapatkan. Makanya kita berupaya merawat yang sudah ada dengan sebaik-baiknya,” lanjutnya.
Jika dibandingkan kopi Arabika yang banyak diproduksi PTPN XII, produksi kopi luwak sangat kecil jumlahnya. Setiap tahunnya tidak lebih dari 8 ton. “Karena jumlah luwak kita nggak begitu banyak, sehingga tidak bisa asal produksi,” tegasnya.

Untuk pasar lokal, Herry mengatakan jika kopi luwak diminati banyak kafe, restoran, maupun hotel berbintang. Mereka mengemasnya sendiri atau menjualnya dalam bentuk minuman (kopi) di outletnya masing-masing.

“Mereka mengambil bahan baku kopi luwak dari PTPN XII. Tapi kemasannya terserah mereka,” sambungnya.

Ia menambahkan, di pasar lokal kopi luwak dijual lebih murah, yakni Rp 1,3 juta per kilogram untuk kopi luwak mentah. Sementara untuk pasar luar negeri, PTPN XII menjualnya hingga Rp 1,9 juta per kilogram untuk kopi luwak yang sudah disangrai. “Kalau sudah matang atau tinggal seduh, harga per kilonya lebih mahal. Sekitar Rp 2 juta per kilogram,” jelasnya. (opi)

sumber : radarsurabaya/hil-n12

Komoditi Kopi - PT. KPB


PTPN PENGHASIL KOPI : PTPN IX , XII
Kontak Informasi :
Logo
Produsen
E-mail
Jenis
 PT. Perkebunan Nusantara IX
 Jl. Mugas Dalam (Atas)
 SEMARANG 50011
 pemasaran@ptpnix.co.id  •  Kopi Arabika (AWP I & IV)
 •  Kopi Robusta (AWP I & IV)
 PT. Perkebunan Nusantara XII
 Jl. Rajawali No.44
 SURABAYA 60175
 ptpn12@rad.net.id  •  Kopi Arabika (AWP I & IV)
 •  Kopi Robusta (AWP I & IV)

PTPN pemroduksi KOPI

PTPN 12

 
 
 
 
 
 
 
Lokasi
Surabaya  Alamat
Jl. Rajawali No. 44, Surabaya 60175 Perwakilan Jakarta: Jl. Percetakan III/48, Kebayoran Baru Jakarta Selatan telp (021)7221224 fax (021)7254020
  Telepon
(031) 3522943, 3536923  Fax
(031) 3534389  Email ptpn12@rad.net.id ptpn12@indo.net.id


  • Kopi Robusta : 9.328 ton

  • Arabika : 3.740 ton



  • PTPN 9

     
     
     
    Lokasi
    Semarang  Alamat
    Jl. Mugas Dalam (Atas), Semarang 50011, Kotak Pos 1106 Kantor Lain : Jl. Ronggowarsito No. 164 Solo 57131 telp (0271)644220 fax (0271)642028
      Telepon
    (024) 8414635  Fax
    (024) 8415408  Email ptpnixsl@idola.net.id,


    Pabrik Kopi : 5 unit
      Kopi : 1.623 ton

    PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (PT KPB Nusantara)

    PT. KPB Nusantara merupakan anak perusahaan dari PT. Perkebunan Nusantara I s.d XIV dan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (PT. RNI) yang bergerak di bidang pemasaran komoditas agro industri produksi PTPN I s.d PTPN XIV dan PT. RNI.

          PT. KPB Nusantara didirikan di Jakarta berdasarkan Akta Notaris N. M. Dipo Nusantara Pua Upa, S.H. No. 4 tanggal 16 Nopember 2009, dan disahkan oleh Menteri Hukum & HAM melalui Surat Keputusan No. AHU-60488.AH.01.01.Tahun 2009 pada tanggal 11 Desember 2009. Pendirian Perusahaan ini dilakukan menurut ketentuan-ketentuan dan keputusan-keputusan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Keputusan Badan Musyawarah Direksi tanggal 14 Agustus 2009, Surat Dewan Komisaris PTPN I s.d PTPN XIV dan PT RNI, dan Surat Persetujuan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tanggal 30 September 2009 Nomor: S-674/MBU/2009. 

          Komoditi utama yang dikelola dan dipasarkan oleh PT. KPB Nusantara meliputi Minyak Sawit, Karet, Latex, Teh, Kopi, Coklat, Gula Tetes, yang dipasarkan di dalam negeri maupun luar negeri. 

          Penjualan dari komoditi tersebut dilakukan melalui tender, auction, dan negosiasi dengan mengacu harga pasar yang dimonitor dari London, Rotterdam, Kuala Lumpur, Singapura, Tokyo, New York dll. Kegiatan ini dilakukan secara rutin meliputi komoditi CPO, karet, gula tetes, teh, selanjutnya untuk komoditi lainnya dilakukan berdasarkan stok yang ada.

    Visi dan Misi Kami


    Visi

    PT. KPB Nusantara menjadi Trading House komoditas perkebunan Indonesia yang unggul dan terpercaya.

    Misi

    Menyelenggarakan pemasaran komoditas perkebunan Indonesia dengan berpegang pada prinsip-prinsip ekonomi untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi produsen dan pembeli.

    Keyakinan Kami

    Memberi manfaat bagi semua orang

    Citra perkebunan yang diwariskan oleh penjajahan Belanda adalah suatu kehidupan yang terisolasi dari masyarakat sekitarnya. Dibalik tembok exclusive tersebut terdapat kehidupan sosial yang timpang. Penduduk pribumi yang pada umumnya hanya buruh rendahan, hidup tanpa jaminan sosial dengan upah yang sangat rendah. Disisi lain, personel Belanda di puncak manajemen perkebunan hidup dalam kemewahan. 

    Hasrat untuk merubah citra buruk tersebut merupakan salah satu alasan bagi Pemerintah Indonesia ketika itu untuk mengambil alih pengelolaan perkebunan milik Belanda. Hal ini mana tercermin dari falsafah "Tri Dharma Perkebunan" yang menjadi landasan bagi pembangunan perkebunan di Indonesia , khususnya bagi perusahaan perkebunan milik negara. 

    Dengan prinsip ini, usaha perkebunan bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan bagi negara, melainkan juga terutama untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pekerja perkebunan serta masyarakat pada umumnya. Disamping itu usaha perkebunan juga bertujuan untuk turut serta memelihara kelestarian lingkungan hidup.

    Dengan latar belakang sejarah demikian itu dan misi yang diemban kepadanya, maka ke depan PTPN I-XIV & PT.RNI bertekad dan berupaya keras untuk menjadi perusahaan agribisnis multinasional yang tangguh, baik di sektor hulu maupun hilir, yang kehadirannya tidak saja bermanfaat bagi masyarakat domestik melainkan juga bagi masyarakat internasional.

     

    Sumber Daya Kami yang Berharga

    Pengalaman,Pelanggan dan Produk yang Berkualitas
    Sebagai pewaris dan penerus usaha perkebunan dari zaman penjajahan Belanda, kami bangga selama ratusan tahun telah melayani dan mendampingi pelanggan/mitra bisnis kami meraih sukses, baik pelanggan domestik maupun mancanegara, dengan menyediakan produk dan layanan yang berkualitas.
     
    Pasar yang mencakup hampir seluruh dunia
    Pelanggan kami terdiri dari berbagai perusahaan yang bonafide dan terkemuka di dunia seperti Safic Alcan, Wilmar, Wilson, Tong Teik, Unilever, ADM Cocoa, Hamburg Coffe, Sumitomo, Mitsui, Mitsubishi, Ajinomoto, Lipton int. dan lain-lain.
    Sumber Daya Manusia
    Bagi kami aset yang paling berharga adalah SDM kami yang begitu sadar akan latar belakang sejarahnya dan sangat paham akan peranan yang dituntut darinya selaku pelopor, pejuang dan pelaku utama pembangunan perkebunan di Indonesia . SDM kami mewarisi tradisi perkebunan yang kental dalam bentuk kerja keras, terus berupaya berkembang dengan meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan.
     
    Areal, Produksi dan Kondisi Alam yang menjamin kontinuitas pasokan
    PTPN I-XIV & PT.RNI memiliki lahan sebanyak lebih dari 1,5 juta ha yang terbentang di 20 provinsi dari 30 provinsi yang ada di Indonesia . Secara kuantitas, produksi yang dihasilkan tentunya akan menjamin kontinuitas pasokan bagi mitra bisnis kami. Iklim dan kesuburan tanah Indonesia sangat cocok untuk perkebunan kelapa sawit, the, kopi, kakao, tebu, karet dan tembakau.
     
    Dukungan yang sangat mendasar
    Sebagai perusahaan milik negara, PTPN I-XIV & PT.RNI mendapat dukungan penuh dari pemerintah, terutama dalam hal kebijakan, pembinaan dan pendayagunaan. Indonesia sebagai negara berpenduduk 220 juta jiwa (ke-5 terbesar di dunia) juga merupakan pasar yang sangat besar. Permintaan dunia atas minyak sawit, karet, teh, kopi, kakao, gula, molasses dan tembakau masih tinggi.

    Semua sumberdaya kami yang berharga tersebut merupakan
    faktor-faktor penunjang utama yang menjamin kesuksesan
    usaha anda sebagai partner bisnis kami.