Seorang nenek (Opung Boru) sedang mamiari kopi, photo file HKBP Adiannangka
Peralihan
peruntukkan tanah dari kopi ke sawit mulai banyak terjadi di Sumatera,
pemilik lahan seakan sudah enggan karena terlalu minimnya keuntungan
financial yang di dapatkan dari menanam kopi.
Padahal
Indonesia termasuk dalam urutan lima besar pemain kopi spesial di
kancah internasional, sekitar 95 % lebih, kopi terbaik di ekspor ke luar
negeri dari jenis kopi Arabica,
sedangkan untuk jenis kopi Robusta lebih banyak di konsumsi oleh lokal,
diseduh oleh petani dan di jual di pasar sekitar saja.
Sebenarnya
para petani / pengusaha kopi tidak kehabisan akal dalam menyiasati
anggapan dari rendahnya nilai dari jenis kopi Robusta, di Sumatera
Utara mereka sudah mencoba mengembangkan dengan kerjasama produktif
dengan Luwak liar dan ternyata mendapat respon sangat baik dari dalam
dan luar negeri, sehingga di waktu selanjutnya kedua varian kopi Robusta
dan Arabica dengan mediasi Luwak dapat di jadikan salah satu andalan
kopi asal Indonesia.
Biasanya
dari hasil panen kopi terbaik masih ada hasil splitan atau mamiari (
dalam bahasa batak ) biasanya akan terpilih sekitar 5 % biji kopi sangat
special dari keseluruhan panen.
Untuk Kopi Luwak yang telah di kemas oleh industri lokal di jual dengan harga variatif :
Seorang
peneliti dan pengusaha kopi di kampung halaman kami Sumatera Utara
dalam blognya menjual kopi Luwak Peaberry dalam bentuk kemasan 1Kg
seharga Rp 3.160.000, untuk kopi luwak regular atau standar 1Kg nya
dihargai Rp 1.250.000, kopi ini dapat di seduh sampai 100 cangkir.
Kopi
Indonesia, yang sangat di minati ternyata masih harus bersaing dengan
kopi tetangganya Vietnam , penyebabnya antara lain ; kecepatan panen
yang lambat di karenakan tidak menggunakan bahan kimia ( kebanyakan
pupuk kandang ) dan penyuluhan cara bertanam serta memetik yang benar.
Bentuk
dataran pertanian kopi di Brazil, dari pengamatan saya cukup mirip
dengan lahan kopi di Sumatera Utara, seperti Kabupaten Pakpak Bharat,
Dairi serta Humbahas. suatu anugerah yang baik, jika dapat dimanfaatkan
dengan maksimal baik oleh masyarakat serta pemerintah.
Keluh
dan kesah para petani kopi di Sumatera, kurangnya promosi yang gencar
dan tepat sasaran, sehingga cukup banyak pihak ketiga dan seterusya nimbrung untung
yang mengakibatkan para petani merasa di anak tirikan , mereka tangan
pertama kebingungan dengan standar mutu yang ditetapkan untuk go
Internasional, jika negara asing memesan kopi mereka selalu di minta
sertifikasi, akhirnya kopi – kopi mereka ditampung oleh para pelaku
eksportir kelas kakap yang memiliki pabrik besar yang mampu memenuhi
standar mutu internasional. Sehingga aroma dan kenikmatan kopi Sumatera
Utara yang telah menjelajah ke seantero dunia belum senikmat harga dan
keuntungan seimbang yang mereka dapatkan
Latar Belakang Kebun Kelapa Sawit, Kabupaten Siak Riau, Photo Oleh Piere Barutu
Pelan
tapi pasti jika ini terus terjadi lahan pertanian kopi Sumatera Utara
akan beralih fungsi menjadi kebun kelapa sawit yang mulai melintang
mengikuti bukit barisan dan telah membuat provinsi tetangga mereka
seperti Riau ( bumi lancang kuning ) jaya dan memiliki motto guyonan
semangat “ Di bawah tanah Minyak, di atas kami Minyak.
MERDEKA !!!