Sabtu, 08 Desember 2012

Daftar UPT Pusat Deptan






Nematoda Parasit Akar Pada Tanaman Kopi

Pengenalan Nematoda Parasit Akar Pada Tanaman Kopi
Oleh : Ida Roma Tio Uli Siahaan, SP
I. PENDAHULUAN
Kopi adalah suatu jenis tanaman tropis yang dapat tumbuh dimana saja, terkecuali pada tempat-tempat yang terlalu tinggi dengan temperatur yang sangat dingin. Mutu kopi yang baik sangat tergantung pada jenis bibit yang ditanam, keadaan iklim, tinggi tempat dan lain-lain. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi perkembangan hama dan penyakit (Anonimus, 1988).
Di beberapa perkebunan kopi banyak dikenal gangguan-gangguan tanaman kopi yang sangat merugikan. Gangguan-gangguan tersebut kebanyakan disebabkan oleh hama dan penyakit, juga disebabkan keadaan sekeliling yang pada umumnya menyerang pada akar, batang, ranting, bunga, buah dan daun.  Selain jamur akar, akhir-akhir ini diketahui pula adanya serangan nematoda akar kopi yang dapat menjadi ancaman penting pertanaman kopi karena dapat turut menurunkan produktivitas kopi di Indonesia.
Terdapat dua jenis nematoda penting yang menyerang tanaman kopi khususnya kopi jenis Arabika yaitu nematoda parasit Pratylenchus coffeae dan Radopholus similis. Kedua jenis nematoda ini merupakan jasad pengganggu yang sangat berbahaya pada kopi robusta dan lebih-lebih pada kopi arabika. Hingga saat ini belum ada cara pengendalian yang ekonomis untuk pertanaman kopi yang sudah terserang (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2007).
Berdasarkan hasil penelitian dan informasi yang ada, menunjukkan bahwa serangan nematoda parasit tanaman di Indonesia cenderung meningkat yang dapat mengarah kepada tingkat kerusakan yang lebih berat  Oleh karena itu, perhatian terhadap nematoda perlu lebih ditingkatkan, agar masalah nematoda yang mungkin timbul dapat diantisipasi sedini mungkin sehingga kerugian karena nematoda dapat ditekan menjadi serendah mungkin (Mustika, 2003).Dalam upaya pengelolaan nematoda tersebut untuk mencapai berhasilnya suatu usaha pertanian di Indonesia perlu terlebih dahulu dikenal nematoda tersebut termasuk gejala serangan dan cara pengendaliannya. 
 II. NEMATODA  PENTING PERUSAK AKAR KOPI
Di Indonesia, kerusakan tanaman karena nematoda parasit, kurang disadari baik oleh petani maupun para petugas pertanian yang bekerja di lapangan. Hal ini mungkin disebabkan oleh gejala serangan nematoda yang sulit diamati secara visual karena ukuran nematoda yang sangat kecil. Di samping itu, peminat terhadap nematologi (ilmu yang mempelajari nematoda) sangat terbatas. Di sisi lain, gejala serangan nematoda berjalan sangat lambat dan tidak spesifik, mirip atau bercampur dengan gejala kekurangan hara dan air, kerusakan akar dan pembuluh batang (Mustika, 2003).
Nematoda parasit tanaman dapat berperan langsung sebagai patogen penyebab penyakit, sebagai organisme yang membuat tanaman lebih mudah terserang (predispose) oleh patogen lainnya seperti cendawan, bakteri atau virus.
Secara umum, serangan nematoda menyebabkan kerusakan pada, karena nematoda mengisap sel-sel akar, sehingga pembuluh jaringan terganggu, akibatnya translokasi air dan hara terhambat. Serangan nematoda juga dapat mempengaruhi proses fotosintesa dan transpirasi (Evans, 1982; Melakeberhan, et.al., 1987 dalam Mustika, 2005), sehingga pertumbuhan tanaman terhambat, warna daun menguning seperti gejala kekurangan hara dan mudah layu. Karena pertumbuhan terhambat produktivitas tanaman menjadi menurun. Seringkali gajala tanaman yang terserang nematoda akar kopi bersamaan dengan serangan OPT lain seperti jamur akar putih,  jamur akar coklat dan penyakit antraknos.
1. Morfologi Umum dan Siklus Hidup
            Nematoda adalah sejenis cacing bulat yang kedua sisinya simetris dan hampir semuanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Nematoda memiliki semua sistem fisiologi seperti pada binatang kelas tinggi, kecuali sistem pernaafasan dan peredaran darah. Pada umumnya nematoda adalah tembus cahaya (transparan) sehingga dengan menggunakan mikroskop cahaya yang dilegkapi dengan lampu dari bawah dan perbesaran sekitar 900-1000 kali, anatomi nematoda dapat dilihat dengan jelas.
            Tubuh nematoda tidak beruas, tidak berwarna dan ditutupi oleh dinding tubuh yang berfungsi untuk melindungi dari tekanan. Dinding tubuh tersebut terdiri atas kutikula bagian luar, lapisan antara, hipodermis dan bagian dalam berupa otot-otot yang membujur. Kutikula merupakan struktur yang aktif terdiri dari protein dan ensim. Selama siklus hidupnya nematoda mengalami empat kali pergantian kutikula. Di bawah kutikula terdapat epidermis (Mustika, 2003).
            Ciri khusus dari nematoda parasit tanaman adalah adanya stilet pada bagian kepalanya yang berfungsi sebagai alat untuk masuk ke dalam jaringan tanaman dan makan cairan sel. Ciri khusus ini merupakan perbedaan morfologi utama antara nematoda parasit tanaman (fitoparasit) dengan kelompok nematoda lainnya (Mustika, 2003).
Siklus hidup nematoda sangat sederhana sekali yaitu betina meletakkan telur kemudian telur-telur tersebut menetas menjadi larva. Dalam banyak hal, larva-larva ini menyerupai nematoda, hanya ukurannya lebih kecil. Selain nematoda dewasa dan telur, dalam siklus hidup nematoda terdapat 4 stadia larva dan empat kali pergantian kulit. Stadia larva pertama berkembang dalam telur dan pergantian kulit pertama biasanya terjadi di dalam telur. Dari pergantian kulit pertama muncul stadia larva dua, yang bergerak bebas ke dalam tanah dan masuk ke dalam jaringan tanaman. Apabila nematoda stadia larva dua tersebut mulai makan pada jaringan inang yang cocok, terjadi pergantian kulit kedua, ketiga dan keempat yang menghasilkan berturut-turut larva stadia tiga, empat dan lima atau stadia dewasa. Secara umum, siklus hidup nematoda parasit berlangsung selama 25-35 hari, bergantung pada jenis nematoda, tanaman inang, keadaan lingkungan tanah (suhu, kelembaban, tekstur) (Mustika, 2003).
            Tingkat kerusakan akibat serangan nematoda pada tanaman tertentu tergantung pada jenis tanaman, varietas, spesies nematoda, tingkat populasi di dalam tanah dan lingkungan. Kerusakan fatal dapat terjadi bila tanaman yang sangat  peka ditanam dan populasi nematoda di dalam tanah cukup tinggi. Akibat serangan nematoda dapat menghambat pertumbuhan tanaman, mengurangi produkitivitas dan kualitas produksi (Sasser, 1985 dalam Mustika, 2003).
2. Pratylenchus coffeae (Nematofa Peluka Akar) dan Gejala Serangannya
            P. coffeae bertelur di dalam jaringan akar. Daur hidupnya berkisar antara 45-48 hari dengan rincian sebagai berikut: inkubasi telur selama 15-17 hari, perkembangan larva hingga menjadi dewasa sekitar 15-16 hari dan perkembangan nematoda dewasa hingga meletakkan telur sekitar 15 hari.  P. coffeae termasuk dalam Kelas Adenophorea, Ordo Tylenchidae, Famili Pratylenchidae dan Genus Pratylenchus (Inserra, et.al., 1998; Mustika, 2003).
Nematoda ini mempunyai lebar tubuh antara 40 μm hingga 160 μm (Whitehead, 1998), dengan panjang tubuh antara 0,4-0,7 mm, sedangkan diameter tubuh 20 -25 μm (Agrios, 2005). Bentuk nematoda ini pada umumnya memanjang, bagian ujung anterior kepala mendatar, dengan kerangka kepala yang kuat, mempunyai stilet pendek dan kuat, panjangnya 14-20 μm dengan basal knop yang jelas (Dropkin 1992).
            P. coffeae menyerang jaringan kortek akar serabut terutama akar-akar serabut yang aktif menyerap unsur hara dan air. Akibatnya akar serabut menjadi rusak, berwarna coklat dan terdapat luka-luka nekrotik. Luka-luka tersebut secara bertahap meluas, sehingga akhirya seluruh akar serabut membusuk.
            Gejala kerusakan oleh nematoda pada bagian tanaman di atas permukaan tanah umumnya tidak spesifik. Tanaman tanaman tampak kerdil, pertumbuhan terhambat, ukuran daun dan cabang primer mengecil, daun tua berwarna kuning yang secara perlahan-lahan akhirnya rontok dan tanaman mati. Akar tanaman kopi yang terserang oleh P. coffeae warnanya berubah menjadi kuning, selanjutnya berwarna coklat dan kebanyakan akar lateralnya busuk. Luka yang terjadi pada akar berakibat merusak seluruh sistem perakaran tanaman kopi (Mustika, 2003).
            Gejala pertama yang muncul akibat infeksi pada tanaman yang baru dipindah adalah daunnya menguning, cabang-cabang utamanya sedikit dan tanaman kerdil. Tanaman berangsur layu yang diikuti oleh kematian. Tanaman yang terserang berat akan mati sebelum dewasa. Di lapangan, gejala kerusakan tersebut terjadi secara setempat-setempat yang dapat mengurangi hasil tergantung pada berat ringannya serangan. P. coffeae merupakan nematoda parasit yang paling merusak pada kopi Arabika di India Selatan.
 
 Gbr. 1. Nematoda Peluka Akar, Pratylenchus coffeae
 
Gbr 2. Betina Pratylenchus coffeae pada tanaman jeruk: A). Anterior; B). Posterior: A=anus, V=vulva (Inssera, 1998).  
3. Radopholus similis (Nematoda Pelubang Akar) dan Gejala Serangannya
            R. similis atau nematoda pelubang akar diketahui sebagai endoparasit migratori pada berbagai jenis tanaman.  Nematoda ini merusak atau makan bagian korteks akar sehingga terjadi lubang-lubang pada akar tersebut. Semua stadia dapat dijumpai pada di dalam akar dan tanah. Jantan bersifat nonparasit, sedangkan stadia lainnya bersifat parasit pada tanaman (Mustika, 2003).
            Nematoda R. Similis termasuk dalam Kelas Secernentea, Ordo  Tylnchida, Famili  Pratylenchidae dan Genus Radopholus (Williams and Siddiqi, 1973). Dari sisi biologi, nematoda luka akar mempunyai perbedaan dengan nematoda yang lain. Nematoda luka akar akan dapat berkembang biak lebih baik di dalam akar tanaman yang pertumbuhannya tidak baik. Tanaman yang mempunyai zat makanan minimal mendorong nematoda berkembang dibandingkan dengan tanaman yang   menyediakan   zat     makanan     optimal (Dropkin,1992).
            Selain temperatur tanah, kehidupan nematoda juga dipengaruhi oleh keberadaan filum air baik di dalam tanah atau dalam tanaman. Filum air berperan bagi mobilitas nematoda, menentukan inaktif dan tidaknya nematoda, bahkan berpengaruh terhadap mortalitasnya (Williams dan Bridge, 1983). Porositas, kelembaban, dan aerasi tanah juga berperan dalam keberlangsungan hidup nematoda (Sastrahidayat, 1992). Pada umumnya nematoda berada di lapisan tanah antara 15-30 cm, namun dapat berkembang baik jika tanah mempunyai banyak pori dan mempunyai cukup udara. 
 
Gambar 3. Nematoda pelubang akar kopi (R. similis). 
4. Gejala Serangan Nematoda Parasit Akar Kopi
            Gejala kerusakan oleh nematoda P. coffeae adalah pada bagian tanaman di atas permukaan tanah umumnya tidak spesifik. Tanaman tampak kerdil, pertumbuhan terhambat, ukuran daun dan cabang primer mengecil, daun tua berwarna kuning yang secara perlahan-lahan akhirnya rontok dan tanaman mati. Akar tanaman yang terserang P.coffeae warnanya berubah menjadi kuning, selanjutnya berwarna coklat dan kebanyakan akar lateralnya busuk. Luka yang terjadi pada akar berakibat merusak seluruh sistem perakaran tanaman kopi (Mustika, 2003).
            Gejala pertama yang muncul akibat infeksi pada tanaman yang baru dipindah daunnya menguning, cabang-cabang utamanya sedikit dan tanaman kerdil. Tanaman berangsur layu yang diikuti oleh kematian. Tanaman yang terserang berat akan mati sebelum dewasa. Di lapangan, gejala kerusakan tersebut terjadi setempat-setempat yang dapat mengurangi hasil tergantung pada berat ringannya serangan P. coffeae. P. coffeae merupakan nematoda parasit yang paling merusak pada kopi Arabika di India Selatan (Mustika, 2003).
            Pada tanaman kopi di Indonesia, serangan nematoda R. similis menyebabkan pertumbuhan tanaman merana, bagian pucuk tanaman mati atau meranting, daunnya kecil-kecil, percabangan kurang dan tanaman mudah digoyangkan (Amidjojo, 1988 dalam Mustika, 2003). 
 
Gambar 3. Serangan nematoda menyebabkan daun tanaman kopi kuning dan layu akhirnya rontok sehingga tanaman menjadi meranggas 
 
Gambar 4. Akar samping (akar lateral) putus-putus, kulit akar menjadi kering dan terkelupas akibat serangan nematoda akar. 
III. PENGENDALIAN NEMATODA PARASIT AKAR KOPI
Pengendalian nematoda yang selama ini banyak digunakan adalah melalui pemanfaatan bahan organik, penggunaan varietas tahan jika tersedia, dengan cara kimia menggunakan pestisida/nematisida dan solarisasi. Dalam pelaksanaannya sering kali hanya memilih satu cara dan target utamanya hanya terhadap nematoda yang dikendalikan dan kurang memperhatikan akibatnya terhadap keseluruhan ekosistem pertanian Dalam pengelolaan nematoda berkelanjutan, hal penting yang perlu dilakukan adalah monitoring komponen biologi dan lingkungan secara teratur termasuk di dalamnya adalah populasi dan musuh alaminya (Munif, 2003).
1. Benih/bibit yang sehat
Penggunaan benih dan bibit yang baik dan bebas dari nematoda merupakan langkah awal dalam kegiatan budidaya tanaman. Hal ini mengingat umumnya masuknya nematoda ke suatu areal pertanaman terjadi karena nematoda terbawa bersama benih. Oleh karena itu perlu dilakukan seleksi benih atau bibit dan hanya menanam benih dan bibit yang bebas dari kontaminasi nematoda parasit (Munif, 2003).
Kopi Arabika dianjurkan ditanam di atas 700  dpl. Ketinggian 700 m dpl merupakan batas ketinggian minimum yang masih dapat menghasilkan biji kopi bermutu baik.  Menemukan dan identifikasi awal khususnya di pembibitan sebelum bibit dipindah ke kebun, jika bibit terserang berat, sebaiknya bibit dibinasakan (Wiryadiputra dan Atmawinata, 1998).
2. Jenis Kultivar
Jenis kultivar tertentu yang ditanam juga berpengaruh terhadap perkembangan nematoda parasit. Kultivar yang resisten akan dapat menekan perkembangan nematoda parasit tumbuhan, sedangkan pemilihan kultivar yang rentan akan mendorong perkembangan populasi nematoda.  Pengaruh secara tidak langsung dari penanaman suatu jenis kultivar terhadap perkembangan nematoda adalah pengaruh eksudat akar yang dihasilkan oleh tanaman yang berpengaruh terhadap perkembangan nematoda dan mikroorganisme lainnya yang ada di dalam tanah (Munif, 2003).
3. Rotasi Tanaman
            Rotasi tanaman dimasudkan untuk mengurangi kepadatan populasi nematoda di dalam tanah yang sudah terinfestasi. Rotasi tanaman dilakukan dengan menanam jenis tanaman yang bukan termasuk inang dari patogen tersebut. Penanaman dengan tanaman bukan inang diharapkan akan memutus atau setidaknya mengganggu siklus hidup  nematoda. Peningkatan populasi nematoda dalam tanah banyak dipengaruhi oleh penanaman tanaman inang yang sama secara terus menerus (Munif, 2003).
4. Tanaman perangkap (Trap cropping)
            Penanaman tanaman perangkap pada lahan yang sudah terinfestasi nematoda akan sangat bermanfaat untuk mengurangi kepadatan populasinya. Metode pengendalian ini telah berhasil digunakan untuk  mengurangi populasi nematoda sista pada kentang.
5. Solarisasi tanah
            Solarisasi dengan menggunakan plastik gelap maupun terang adalah upaya untuk meningkatkan temperatur tanah pada level tertentu sehingga dapat menekan populasi nematoda maupun patogen tanah. Mekanisme penekanannya dapat secara langsung dengan terbunuhnya propagul patogen atau nematoda akibat peningkatan suhu akibat peningkatan suhu karena proses penutupan tanah dengan plastik dalam jangka waktu tertentu, maupun secara tidak langsung dengan aktifnya berbagai mikroorganisme antagonis dalam tanah karena proses solarisasi tersebut (Munif, 2003).
6. Penggenangan
            Penggenangan tanah yang terinfestasi selama beberapa bulan dapat mengurangi populasi nematoda. Penggenangan telah terbukti populasi Meloidogyne pada pertanaman secara signifikan.  Cara ini juga telah digunakan untuk mengurangi serangan nematoda Radopholus similis  yang menyerang tanaman pisang di Amerika Tengah dan Selatan (Munif, 2003).
7. Varietas resisten
Penanaman jenis resisten secara ekonomi dan ekologi sangat menguntungkan (Munif, 2003). Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia telah berhasil menemukan  anjuran klon kopi Robusta BP 308 tahan nematoda yang telah diuji di berbagai daerah endemik serangan nematoda dengan hasil memuaskan. Selain tahan serangan nematoda parasit, klon BP 308 juga tahan kekeringan. Untuk mempertahankan sifat tahan serangan nematoda kopi robusta klon BP 308 harus diperbanyak secara klonal karena sebagai induk maupun penyerbuk mewariskan sifat tahan hanya sebesar 40-60%. Klon ini memiliki produktivitas 1.200 kg kopi pasar/ha/tahun.  Kopi Robusta Klon BP 308 dianjurkan digunakan sebagai batang bawah untuk penyambungan dengan batang atas klon-klon anjuran kopi robusta sesuai agroklimat setempat atau varietas anjuran kopi arabika. Klon BP 308 dilepas oleh Menteri Pertanian dengan SK No. 65/Kpts/SR.120/I/2004.  Adapun klon-klon robusta yang dianjurkan adalah BP 42, BP 234, BP 288, BP 358, Bp 409, dan SA 237.  Enam klon lain yang baru dilepas oleh adalah BP 436, BP 534, BP 920, BP936, BP 939 dan SA 203. Varietas anjuran kopi arabika yaitu Abesinia 3, S 795, USDA 762, Kartika 1,      Kartika 2, dan Andungsari 1 (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2007).
8. Pengendalian secara biologi
Beberapa contoh agen pengendali yang sudah teruji seperti bakteri parasit Pasteuria penetrans, maupun bakteri saprofit yang berasal rizosfer seperti Bacillus subtilis, Pasteuria fluorescens, Agrobacterium radiobacter. Demikian juga agen pengendali dari kelompok cendawan seperti Paecilomyces lilacinus, Arthrobotrys oligospora, Dactilella sp. (Munif, 2003).
Hasil percobaan Irfan (2006),  menunjukkan bahwa jamur A. oligospora umur 15 dan 30 hari yang yang diinokulasikan dengan 600 ekor nematoda R. similis dapat memberikan penekanan terhadap populasi R. similis pada tanaman kopi. Sedangkan 3 taraf dosis jamur A. oligospora (16, 24 dan 32 gram) yang diinokulasikan yang tidak berpengaruh terhadap populasi nematoda R. similis.
8. Bahan Organik
            Berbagai jenis bahan organik seperti kompos, pupuk kandang dari kotoran ayam dan bahan organik lainnya telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematoda parasit. Penambahan bahan organik ke dalam tanah selain dapat meningkatkan kualitas kesehatan tanah dan kesuburan tanaman, juga dapat merangsang perkembangan mikroorganisme antagonis. Beberapa senyawa yang diproduksi oleh  berbagai bahan organik di dalam tanah juga dilaporkan dapat meningkatkan populasi nematoda predator (Munif, 2003).
Penggunaan bahan organik (kotoran ayam, sapi, kambing, sekam padi, serbuk gergaji atau tepung biji mimba) dapat mengurangi populasi nematoda M. incognita dan P. brachyurus pada nilam, dan efektivitasnya hampir sama dengan nematisida karbofuran 3% (Mustika dan Nuryani, 2006). Menurut Puslit Kopi dan Kakao Indonesia, pemberian pupuk kandang (kotoran sapi 1-2 kg/tanaman dapat dilakukan sebelum tanam dengan tujuan untuk meningkatkan produksi mikroorganisme antagonis (musuh alami) nematoda pada tanaman nilam.
            Pemupukan bahan organik dilakukan bertujuan memperbaiki struktur tanah sehingga tanaman dapat tumbuh subur.  Tanaman yang sehat dan kuat lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Di dalam pupuk oganik terutama pupuk kandang/kompos banyak berkembang mikroorganisme yang dapat berperan sebagai musuh alami nematoda, misalnya jamur perangkap seperti Arthrobotyrs oligospora, yang bersifat sebagai jamur perangkap nematoda (sticky network). Pemberian pupuk kandang 15 kg/pohon pada kopi arabika ‘Kartika’ ternyata dapat menekan populasi P. coffeae setingkat dengan pemakaian nematisida (Wiryadiputra dan Atmawinata, 1998).
Penggunaan bahan organik (kotoran ayam, sapi, kambing, sekam padi, serbuk gergaji atau tepung biji mimba) dapat mengurangi populasi nematoda M. incognita dan P. brachyurus pada nilam, dan efektivitasnya hampir sama dengan nematisida karbofuran 3% (Mustika dan Nuryani, 2006). Penggunaan bahan organik merupakan dasar dalam pengendalian nematoda secara hayati, karena bahan organik dapat memacu perkembangan mikroorganisme antagonis dalam tanah seperti jamur, bakteri, dan nematoda predator. Penggunaan pupuk NPK, dolomit, dan mulsa daun akar wangi pada lahan yang terinfeksi nematoda di Jawa Barat mampu menghasilkan terna basah (bagian daun dan ranting) sekitar 11,44 ton/ha, sedangkan bila tanpa mulsa hasilnya hanya 9,75 ton/ha. Selain berfungsi sebagai bahan organik, mulsa juga berperan dalam mempertahankan kelembapan tanah.  Hasil  pelapukan bahan organik bersifat racun  terhadap  nematoda  serta  mampu  memacu perkembangbiakan dan aktivitas mikroorganisme antagonis yang merupakan musuh alami nematoda seperti jamur, bakteri, dan antagonis lainnya. 
Menurut Puslit Kopi dan Kakao Indonesia, pemberian pupuk kandang (kotoran sapi 1-2 kg/tanaman dapat dilakukan sebelum tanam dengan tujuan untuk meningkatkan produksi mikroorganisme antagonis (musuh alami) nematoda pada tanaman nilam.
9. Pengendalian secara kimia
            Penggunaan bahan kimia terutama pestisida merupakan cara yang paling banyak digunakan oleh praktisi dalam pengendalian nematoda. Penggunaan bahan kimia dapat langsung diaplikasikan ke tanah sebelum tanam, maupun digunakan untuk perlakuan benih atau bibit sebelum tanam. Pestisida yang banyak digunakan adalah dari kelompok fumigan. Penggunaan nematisida fumigan terbukti telah menurunkan populasi nematoda secara signifikan. Aplikasi nematisida dalam pengendalian nematoda harus tetap mempertimbangkan aspek ekonomi dan ekologi (Munif, 2003). Sebaiknya digunakan nematisida yang bersifat sistemik. Nematisida yang dapat digunakan antara lain dengan pemberian nematisida berbahan aktif curater seperti Furadan 3G dengan dosis 3-5 gram/tanaman atau sesuai dosis anjuran (Wiryadiputra dan Atmawinata, 1998). 
IV. KESIMPULAN
            Pratylenchus coffeae dan Radopholus similis merupakan dua jenis nematoda penting yang menyerang akar tanaman kopi. Pengelolaan nematoda pada kebun kopi harus berkaitan secara langsung terhadap nematoda parasit sebagai sasaran maupun terhadap lingkungan pertanian secara umum. Dalam pengelolaan nematoda perlu sedapat mungkin mengutamakan upaya pencegahan daripada tindakan pengendalian. Pemberian pupuk kandang atau kompos dapat membantu  berkembangnya mikroorganisme yang berperan sebagai musuh alami nematoda (predator nematoda). Pemanfaatan agensia hayati seperti penggunaan jamur Arthrobotrys oligospora dan agen pengendali lain perlu dikembangkan lebih lanjut karena memiliki peluang yang baik dalam menekan populasi nematoda akar kopi.

http://ditjenbun.deptan.go.id/bbp2tpmed/index.php?option=com_content&view=section&layout=blog&id=12&Itemid=24

Selasa, 04 Desember 2012

Agrowindo



 
mesin pertanian di bandung

Lokasi dan Kontak :
  • Show Room Bandung : Komplek Metro Trade Center (MTC) Blok K No. 6 Jl Soekarno Hatta By Pass, Bandung
  • Telp 022-753 76 39, 022-753 76 58
Bagi Anda warga Bandung dan sekitarnya yang membutuhkan alat dan mesin pertanian, bisa langsung menghubungi alamat di atas

Minggu, 25 November 2012

Wayan Supadno - Formulator Pupuk Organik



•Nama   :   Wayan Supadno
•Umur   :   44 tahun
•Alamat   :   Raffles Hills L6 No.6,   Cibubur
•Pekerjaan   :   TNI-AD,
Formulator Pupuk Organik Hayati , Hormon Organik, &
Praktisi Pertanian
•Status   :   Menikah/ 3 Anak
•Motto :
  Memang baik jadi orang penting,
  tapi lebih penting jadi orang baik.
•Filosofi :
  Sejatinya hidup harus dihidup-hidupkan, agar makna hidup terjabarkan lebih hidup lagi.

•1967 :
  Lahir di keluarga petani gurem, Desa Curahjati, Banyuwangi Selatan, Jawa Timur
•1973-1981 :
•SD Katholik di Banyuwangi,
•Tidak naik kelas 2x
•Nyaris bisu karena gagap berlebihan.
•1981-1984 :
•SMP Banyuwangi


•1984-1987 :
•SMAN 1 Singaraja, Bali
•Semester I ranking 47 dari 47 siswa,
  tapi Semester VI lulus ranking 1
•Termotivasi karena senior-senior yang sukses memberi ceramah kisah suksesnya.
•Juara lomba pidato, pasca gagap
•1987-1990 :
•Kuliah di Univ. Airlangga, Surabaya
•Sambil belajar, bekerja sebagai sales buku dan mengajar
•1991-1993 :
•Kerja di Perusahaan Farmasi (Asing),
  terdidik, terlatih dunia bisnis
•Pendidikan Wajib Militer di Magelang, hidup disiplin
•1993-1999 :
•Bisnis karung bekas
•Bisnis cangkang sawit
•Riset dengan PT Indorayon Pulp & Paper Cangkang Sawit menjadi pengganti batubara 
•1993-1999 :
•Bisnis pinang, ekspor ke India
•Bisnis ikan mas
•Bisnis kayu teh pasca replanting
•Bisnis beras
•Bisnis sekam padi
•Buka kebun sawit
•1999-2005 :
•Membangun Rumah Sakit & Perumahan
•Bangkrut Rp. 38 Milyar
•Riset dengan LIPI cangkang sawit menjadi liquid smoke, bricket, karbon aktif
•Rugi Rp 465 juta karena non organik, ditolak oleh Pasar Eropa
•2009-sekarang :
•Formulator Pupuk Organik Hayati & Praktisi Pertanian
  



 

Kamis, 22 November 2012

Kacang Hijau Untuk Uji Coba Hormon Tumbuhan


Kacang hijau (Vigna radiata) merupakan salah satu bahan pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas selain beras. Kacang hijau juga banyak diberikan untuk anak-anak balita karena kandungan gizinya serta mudah dicerna. Campuran tepung kacang hijau dan tepung beras masing-masing 50 % sangat baik untuk konsumsi anak balita karena kandungan lisin dan asam amino-sulfur sangat serasi. Karena tergolong tinggi penggunaannya dalam masyarakat, maka kacang hijau ini memiliki tingkat kebutuhan yang cukup tinggi. Dengan teknik budidaya dan penanaman yang relatif mudah budidaya tanaman kacang hijau memiliki prospek yang baik untuk menjadi peluang usaha bidang agrobisnis.
Pada umumnya, kacang hijau umumnya ditanam di lahan sawah pada musim kemarau setelah padi atau tanaman palawija yang lain. Kacang hijau memiliki kelebihan dibandingkan tanaman pangan lainnya, yaitu:
  • Berumur genjah (55-65 hari)
  • Lebih toleran kekeringan dengan kebutuhan air untuk pertumbuhan kacang hijau relatif kecil, yakni 700-900 mm/tahun. Pada curah hujan yang lebih rendah dari itu masih dapat tumbuh karena ia berakar dalam
  • Dapat ditanam pada lahan yang kurang subur dan penyubur tanah karena bersimbiose dengan rhizobium dan menghasilkan biomasa banyak (11-12 t/ha)
  • Cara membudidayakannya mudah, cukup olah tanah minimal dan biji disebar
  • Hama yang menyerang relatif sedikit dan
  • Harga jual tinggi dan stabil.
Karena kelebihan tersebut kacang hijau dapat dipandang sebagai komoditas alternatif untuk dikembangkan di lahan sawah dan lahan kering, khususnya yang memiliki indeks panen rendah Manfaat lain yang diberikan oleh biji-bijian ini, kacang hijau adalah komplementer dengan beras dapat diperkaya oleh kacang hijau, sebab protein beras yang miskin lisin akan diperkaya oleh kacang hijau yang kaya lisin. Asam amino kacang hijau yang miskin sulfur akan diperkaya oleh asam amino beras yang kaya sulfur. Oleh karena itu kombinasi kacang hijau dan tepung beras merupakan kombinasi yang serasi.

Teknik Budidaya Kacang Hijau

1. Varietas
Semua varietas kacang hijau yang telah dilepas cocok ditanam di lahan sawah maupun lahan kering. Varietas terbaru tahan penyakit embun tepung dan bercak daun seperti sriti, kenari, perkutut, murai dan kutilang dapat dianjurkan untuk ditanam di daerah endemik penyakit tersebut. Kebutuhan benih sekitar 25-30 kg/ha dengan daya tumbuh 90%.
  1. Pada lahan sawah bekas tanaman padi, tidak perlu dilakukan pengolahan tanah (Tanpa Olah Tanah = TOT). Tunggul padi perlu dipotong pendek dan jerami padi dibersikan. Apabila tanah becek, perlu dibuat saluran drainase.
  2. Pada lahan kering (tegalan) pengolahan tanah dilakukan intensif dibersihkan dari rumput, dicangkul hingga gembur (untuk tanah tegalan yang berat pembajakan dilakukan sedalam 15-20 cm), dibuat petakan 3-4 m.
  3. Pemberian mulsa jerami sekitar 5 ton/ha agar dapat menekan pertumbuhan gulma, mencegah penguapan air dan perbaikan struktur tanah.
2. Penanaman
  1. Waktu Tanam pada lahan sawah tanaman kacang hijau ditanam pada musim kemarau setelah tanaman padi. Sedangkan di lahan tegalan dilakukan pada awal musim hujan.
  2. Cara Tanam, Benih ditanam dengan cara tugal, dengan jarak 40 cm x 15 cm untuk musim hujan, sehingga populasinya sekitar 300-400 ribu tanaman per hektar. Sedangkan untuk musim kemarau digunakan jarak tanam 40 cm x 10 cm, tiap lubang diisi 2 biji. Sehingga populasinya sekitar 400-500 ribu tanaman per hektar.
  3. Penyulaman dapat dilakukan sebelum tanaman berumur 7 hari.
3. Pemupukan
  1. Pada lahan sawah bekas tanaman padi yang subur, tanaman kacang hijau pada umumnya tidak perlu dilakukan pemupukan.
  2. Pada lahan kering diperlukan pemupukan dengan NPK.
  3. Pada tanah yang kurang subur dilakukan pemupukan 45 kg Urea, 45 – 90 kg TSP dan 50 kg KCL/ha yang diberikan pada saat tanam secara larikan di sisi lubang tanam sepanjang barisan tanaman.
Penambahan pupuk organik seperti pupuk kompos, pupuk kandang dapat meningkat kapasitas menahan air di dalam tanah. Pupuk organik diberikan dengan sebanyak 15-20 ton/ha. Abu dapur sangat baik digunakan sebagai penutup lobang tanam.

Penggunaan mulsa jerami, jerami padi dapat diaplikasikan sebagai mulsa, dengan takaran 5 ton jerami padi/ha. Penggunaan mulsa dapat menekan serangan lalat bibit, pertumbuhan gulma dan penguapan air.

Pengairan, tanaman kacang hijau relatif tahan kering, namun tetap memerlukan pengairan terutama pada periode kritis pada waktu perkecambahan, menjelang berbunga (umur 25 hari) dan pembentukan polong (umur 45-50 hari). Penyiangan dilakukan seawal mungkin karena kacang hijau tidak tahan bersaing dengan gulma. Penyiangan dilakukan 2 kali pada umur 2 dan 4 minggu.

Klasifikasi Kopi

Kopi
Coffea arabica L.
Nama umum
Indonesia:Kopi
Inggris:arabian coffee
Pilipina:Kape
Coffea arabica
Kopi

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas: Asteridae
                         Ordo: Rubiales
                             Famili: Rubiaceae (suku kopi-kopian)
                                 Genus: Coffea
                                     Spesies: Coffea arabica L.

Minggu, 11 November 2012

Hand Grinder keren!


Beratnya hanya 250 gram, tapi mata pisaunya yang terbuat dari keramik (jenis conical burr) bisa menggiling biji kopi hingga bisa digunakan untuk espresso ! Dengan harga sekitar 375 ribuan, tanpa keraguan saya merekomendasikan Hario Ceramic Slim (HCS) sebagai kelengkapan yang wajib dimiliki oleh setiap pecinta kopi. Bukan itu saja, bentuknya yang ringkas dan pemutar yang bisa dilepas membuat HCS bisa jadi teman di perjalanan.



Spesifikasi :
Dimensi : 7.5 (P) x 6.5 (L) x 17cm (T)
Burr type : Conical (ceramic)
Kapasitas penampung biji kopi : 50 gram
Kapasitas doser : sekitar 25 gram
RPM : 125 kali putaran untuk 10 gram, jadi lumayan buat mengencangkan otot bisep
Berat kosong : 250 gram
(Catatan: spesifikasi ini dibuat sendiri karena buku petunjuk disajikan dalam bahasa Jepang yang boro-boro saya kuasai :) )


Grind Adjustment : Bagian paling penting HCS adalah pada komponen pengaturan halus-kasar yang terdapat di bagian bawah penampung biji kopi atau bean hopper. Sederhanan saja, putar ke kanan untuk menghaluskan dan arah sebaliknya untuk menghasilkan bubuk yang lebih kasar. Tentu saja tanpa ada petunjuk, tapi sebagai awal putar hingga habis menurut arah jarum jam dan mulailah dari titik itu menggeser sedikit demi sedikit.


Conical burr dari keramik : Baratza Vario atau Gaggia Mdf adalah sebagian kecil penggiling kopi yang menggunakan material keramik untuk pisaunya. Bahkan Baratza Vario menjamin bahwa burr nya tidak perlu penggantian seumur hidup karena ketajamannya tidak akan berubah. Selain itu, beberapa kelebihan dari pisau yang terbuat dari keramik antara lain mudah dibersihkan dan tentu saja tidak akan berkarat.


Penampung bubuk kopi atau doser : Dengan diameter yang hanya 6.5 cm, HCS hanya berkapasitas sekitar 25 gram saja, cukup untuk dua cangkir kopi. Terdiri dari dua lapis yang menambah chic desain HCS dengan inidkator 1 dan 2 cangkir yang sayangnya tidak terlihat pada foto di atas.


RPM dan Tes : Tentu saja tidak ada RPM.  Tapi saya menghabiskan waktu dua menit untuk 10 gram kopi dengan 125 kali putaran untuk ukuran bubuk espresso yang halus. Tentu saja semakin kasar bubuk kopi, waktu yang diperlukan dan jumlah putaran yang lebih sedikit. Mengapa untuk espresso ? Bila grinder ini bisa digunakan untuk jenis minuman ini, tentu bukan hal yang sulit bagi HCS untuk menggiling bagi alat french press, drip, dan metode seduh lainnya. Mari kita coba.


Perlu beberapa kali penyesuaian, tapi kalau Anda lihat pada foto di atas, inilah Hario Ceramic Slim, grinder seharga kurang dari 400 ribu dengan performa yang tidak kalah dengan grinder yang harganya jauh berlipat.


Penutup : Bila Anda punya keterbatasan anggaran untuk menghabiskan jutaan rupiah untuk sebuah grinder, Hario Ceramic Slim adalah pilihan yang tak akan salah. Go get one !

cikopi.com