Minggu, 09 September 2012

Lelang Kopi SCAI 2012


Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) kembali akan menggelar kegiatan Lelang Kopi yang akan berlangsung di kota Surabaya, tanggal 12-14 Oktober 2012. Kepada seluruh peserta yang berniat mengikuti kegiatan ini diharapkan untuk mengirimkan contoh kopi Arabika maupun Robusta kepada pihak panitia dengan menyertakan informasi selengkapnya seperti :
  • Asal daerah kopi
  • Ketinggian
  • Jenis pengolahan
  • Tahun panen
Menurut panitia penyelenggara, sampel yang akan diikutsertakan pada Lelang Kopi minimal meraih nilai “83 poin” pada saat seleksi atau grading. Kegiatan terbuka untuk umum.  Penjelasan selanjutnya bisa menghubungi pihak AKSI di nomor telepon (021) 7511941 atau Resi : 0813 95251300.
Nah, ini catatan saya untuk kegiatan yang sangat penting ini dan diharapkan dapat diikuti oleh banyak peserta termasuk para petani. Kopi Indonesia memang sudah terkenal di dunia, tapi tetap harus terus di “branding” atau dipoles citranya secara terus menerus. Saya sepenuhnya percaya bahwa acara seperti Lelang Kopi bisa dijadikan sebuah public relations yang ampuh, bukan untuk Amerika atau Eropa yang sudah tak asing dengan seluk beluk pembelian kopi di kita, tapi untuk potensi sebuah negara yang penduduknya 1 milyar lebih, ya Cina. Kemakmuran ekonomi membawa perubahan gaya hidup generasi mudanya, dan kopi adalah salah satu label atau identitas sosial yang sedang hype. Itu baru Cina, belum lagi negara Rusia serta negara-negara Timur Tengah, lahan pemasaran kopi kita yang harus digarap.
Kopi Spesial Indonesia akan tetap spesial, selain kualitas yang harus tetap terjaga, tapi yang lebih penting adalah upaya pembentukan citra yang positif terus dilakukan. Eksposure media internasional untuk kegiatan sebesar ini perlu dilakukan  supaya pasar tahu bahwa cupping test untuk mencapai nilai lebih dari 83 bukan hal yang sulit dirail oleh banyak varian kopi di Indonesia, dan biasanya  selalu ada kopi yang sangat cemerlang saat acara Lelang.
Sudah biasa jika pembeli besar dari negera tertentu akan melindungi sumber pembelian bahan bakunya dengan sekuat tenaga, tapi asal harganya sesuai, praktek tersebut sah-sah saja. Tapi yang jadi masalah bila mereka mendiktekan harga semena-mena di bawah pasar premium karena membeli dalam jumlah yang sangat besar,  semoga saya salah untuk hal ini.
Akhirnya. saya cuma ingin mengatakan, branding and packaging, will make a big difference !
*  *  *

Sabtu, 08 September 2012

FESTIVAL KOPI BALI

15-16 September 2012.

Espro Press


Tak ada yang bisa mengalahkan kawan sejati saya, French Press, alat seduh kopi yang sudah lama menjadi bagian tak terpisahkan dan selalu saya anjurkan bagi siapapun khususnya yang baru terkena sihir minuman ini. Tentu merek Bodum atau Hario yang biasanya saya gunakan , tapi bila gelasnya pecah (Bodum) lebih baik ganti yang baru saja karena harganya yang tidak kira-kira mahalnya. Tapi saat Espro Press hadir saya harus sedikit merevisi opini tersebut, paling tidak, alat ini menawarkan beberapa keunggulan yang tak dipunyai istri tua saya. Dengan harga lebih dari dua kali lipat, selayaknya Espro Press punya inovasi yang menyegarkan sehingga menarik para penganut mazhab seduh full immersion yang biasanya enggan berpaling.


Banyak alasan mengapa saya menyenangi alat seperti French Press, kesederhanaan proses pembuatan kopinya yang hanya dituang air panas lalu cukup tunggu 3-4 menit sebelum ditekan dan siap disajikan. Buat saya french press lebih menggelorakan rasa kopi hingga kapasitas maksimalnya karena kontak air dalam waktu yang cukup lama. Cara pour over memang sophisticated, tapi pengontrolan suhu  dan grind size harus diperhatikan dengan seksama dan ini cukup tricky. Jadi selama ini metode kopi berendam seperti french press selalu menjadi pilihan utama selain absennya ampas yang memang salah satu keunggulannya.
Kembali ke Espro Press, beratnya hampir setengah kilogram, berdiameter 7.5 cm dan tinggi hingga ke bagian plunger 17 cm. Kecuali bagian filter, Espro Press terbuat dari stainless steel yang begitu kokoh saat dipegang. Alat ini diawali pembuatannya oleh Christopher McLean dan Bruce Constantine, warga Kanada yang berhasil mengumpulkan banyak dukungan di situs penggalangan dana Kickstarter.


Sebagaimana termos penyimpan air panas, Espro Pres mengadopsi teknologi vacuum flask agar suhu tidak terjun bebas. Untuk membuat kopi tetap panas biasanya saya langsung menuang kopi ke dalam termos Zojirushi, tapi menurut Espro, alat ini cukup makbul untuk membuat kopi tetap panas dalam jangka waktu tertentu tanpa membuatnya over extraction karena kopi yang sudah ditekan tidak akan lagi kontak dengan air. Berbeda dengan french press, bila kopi tidak dituang, steeping akan terus terjadi yang tentu saja akan mempengaruhi cita rasa kopi.
Fitur unggulan lain dari alat ini adalah aplikasi dua layer filter yang digungsikan untuk dapat menyaring partikel kopi yang berukuran mikro. Sebagaimana kita tahu, dalam konstruksinya,  french press hanya memasang satu filter walau juga terdiri dari tiga layer.

Menggunakan Espro

Kecuali fitur unggulannya, Espro sama dengan french press, jadi tak ada perbedaan cara menyeduh kopi dengan alat ini. Saya mencoba kapasitas maksimalnya yang 400 ml hingga 150ml, dan menemukan bahwa saat dituang jumlah airnya selalu berkurang sebanyak 30%, jadi akhirnya saya melebihkan takaran dari angka yang biasa saya gunakan menjadi kira-kira 14 gram, untuk 200ml air.
Lalu bagaimana dengan rasanya ? Buat saya agak sulit mengidentifikasi secara akurat perbedaa dari faktor rasanya, cuma  agak sedikit lebih “ringan” dari segi body dibandingkan dengan french press. Sejatinya hal ini diakibatkan oleh  mikro filter yang berhasil menyaring ampas hingga kopi warnanya agak sedikit lebih terang dibanding french press biasa.
Satu hal yang membahagiakan adalah masalah temperatur yang begitu terjaga pada Espro dan saya mempertimbangkan untuk tidak menggunakan termos Zojirushi saat di rumah. Klaim penahan panas membuat saya mencoba mengukurnya dan menemukan fakta yang menggembirakan karena suhu kopi turun rata-rata hanya 10 derajat Celsius setiap jam nya !
Berbagai keunggulan seperti ampas yang tersaring nyaris sempurna, tidak over extraction, dan tentu saja penurunan suhu yang sangat kecil dalah tiga hal yang membuat saya menobatkan alat ini sebagai “must have coffee brewing tool” bagi siapa saja yang menyukai metode full immersion. Tapi tentu dengan sedikit penalti berkurangnya volume air sebesar 30% setiap kali kita menyeduh kopi, walau saya pribadi tidak terlalu keberatan dengan kelemahan tersebut. Terakhir, tak usah khawatir pecah dan mengganti suku cadangnya karena material stainless-nya yang sangat solid.
Termos yang berbentuk french press atau sebaliknya adalah Espro Press.
*  *  *




Sumber: cikopi.com

Sabtu, 11 Agustus 2012

Paten Indikasi Geografis Kopi Gayo Segera Terwujud



Bupati Aceh Tengah Ir. H. Nasaruddin, MM mengatakan pengakuan Indikasi Geografis (IG) merupakan hal sangat penting bagi seluruh petani kopi di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. ”Oleh karena itu pengajuan IG ini dan kegiatan pelepasan tiga varietas yakni Borbor, Timtim dan P-88 menjadi fokus perhatian tiga Pemerintah Daerah dan siap mendukung sepenuhnya kegiatan tersebut”, ujarnya dalam pembukaan pertemuan Rapat Penyusunan Buku Persyaratan Indikasi Geografis yang diadakan di Hotel Mahara Takengon, Aceh Tengah pada 15 Desember 2009.

Hal yang sama disampaikan Ketua Forum Kopi Aceh Drs. H. Mustafa Ali selaku penyelenggara acara tersebut. Menurutnya, untuk mendapatkan pengakuan dunia atas reputasi kopi Gayo yang sudah sejak lama diusahakan oleh petani/ masyarakat Gayo, maka pengajuan IG tidak boleh tertunda lagi mengingat besarnya manfaat yang akan didapat. “Dengan diperolehnya paten IG kopi arabika Gayo maka Belanda ataupun pihak lain tidak lagi dapat menggunakan nama “Gayo” pada produk mereka di pasaran, sebab kopi spesial ini hanya dihasilkan oleh petani Dataran Tinggi Gayo”, paparnya.
Menanggapi harapan tersebut, peneliti senior dari Puslit Kopi dan Kakao Jember Dr. Surip Mawardi memberikan apresiasi yang sangat besar kepada Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG). Ia menilai pengajuan IG merupakan aspirasi masyarakat Gayo yang berbeda dengan IG kopi arabika Kintamani yang berasal dari inisiatif pemerintah setempat.
Sementara itu, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh selaku Ketua Tim Pelepasan Varietas Kopi Gayo, Ir. T. Iskandar, M.Si mengatakan saat ini sudah melakukan persiapan pelepasan varietas seperti uji varietas dan uji cita rasa. Kini dalam tahap pengumpulan data ketahanan hama penyakit kopi dan analisis tanah bekerjasama dengan Puslitkoka yang didukung oleh Aceh Partnerships for Economic Development (APED) dan segenap masyarakat perkopian Aceh. ”Harapan kita pada Oktober 2010 nanti tiga varietas kopi Gayo sudah dapat dilepas oleh Menteri Pertanian”, katanya optimis.
Seluruh perserta rapat yang ikut dihadiri oleh tim dari Puslitkoka Jember dan Dirjen HKI dari Jakarta memberikan masukan pada penyempurnaan penyusunan buku pendaftaran IG. Dr. Surip Mawardi menyarankan agar memasukkan beberapa teknologi spesifik petani dalam draft adat istiadat sebagai local knowledge yang merupakan salah satu faktor bagi penciptaan cita rasa kopi arabika Gayo yang unik dan khas. Sedangkan Saky Septiono, SH. MH dari Dirjen HKI memberikan beberapa substansi penting bagi penyusunan buku tersebut. ”Usulan draft IG ini akan saya serahkan kepada Dirjen HKI pada Senin 21 Desember 2009,” ujarnya.

Minggu, 05 Agustus 2012

KOPI KOPYOL ASAL BALI RESMI MENJADI KOPI BINA

Kopi kopyol asal Bali ditetapkan sebagai benih bina oleh pemerintah melalui Menteri Pertanian. Hal ini terkait dengan keunggulan varietas tanaman tersebut ditinjau dari cita rasa dan produktivitas. 

Kopi kopyol memiliki potensi produksi mencapai 8 – 10 Kg Glondong merah untuk setiap pohon. Selain dari aspek produktivitas, keunggulan lainnya, kopi ini relative tahan terhadap penggerak buah dan nematode. 

Namun keunggulan kopi tidak lepas dari cita rasanya. Dari hasil pengujian hasil seduhan kualitas kopi arabika ini cukup baik. Bahkan beberapa biji yang diolah menghasilkan cita rasa menyerupai jeruk. 

Jenis ini sudah dikenal oleh masyarakat Bali sejak tahun 1985. Nama kopyol sendiri muncul karena cabang kopi tersebut menjuntai ke bawah menyentuh tanah (ngopyol , dalam daerah setempat). Penanamannya tersebar di kawasan Kintamani, Pedang, Sukasa dan mulai meluas ke Daya dan Redang . 

Kopi ini ditetapkan sebagai benih bina setelah dinyatakan layak untuk dilepas melalui sidang pelepasan varietas perkebunan yang dilaksanakan pada Bulan Nopember 2010 yang lalu di Kementeriaan Pertanian.

KETENTUAN KEBUN INDUK KOPI


Kopi arabika merupakan jenis kopi untu daerah dataran tinggi. Sebagian besar kopi spesial berjenis ini. Sehingga pembangunan kebun induk kopi arabika adalah bidang usaha perkebunan yang masih menjanjikan. Mengingat kopi arabika Indonesia merupakan salah satu komoditas ekspor. 

Adapun kriteria lokasi untuk pendirian kebun induk kopi arabika adalah sebagai berikut: 

Syarat Lokasi
Letaknya terisolir dari pertanaman kopi robusta .
Lahan bebas`dari nematoda
Aman dari gangguan pencurian
Mudah diawasi.

Tanah
pH tanah : 5,5 – 6,5.
Kandungan bahan organik pada tanah atas (top soil) minimal 2%
Struktur tanah gembur/remah, keadaan tanah efektif >100 cm.
Kelerengan tanah untuk kebun benih maximum 20 %.

Iklim 
Tinggi tempat 700 – 1.500 m dari permukaan laut.
Suhu/temperatur 15 - 24ºC.
Curah hujan rata-rata 1.500 – 4.000 mm/tahun
Jumlah bulan kering rata-rata 1 – 3 bulan/tahun (menurut Schmidt & Ferguson

KOPI KINTAMANI DIMINATI DI LUAR NEGRI

http://pengawasbenihtanaman.blogspot.com/search/label/Kopi

Bali tidak hanya terkenal dengan tempat wisatanya namun juga dengan kopinya yang bercita rasa. Setidaknya hal ini dibuktikan dari kopi Kintamani yang telah menembus pasar Ekspor. 

Menurut Kadis Perkebunan Prov Bali, disela pertemuan koordinasi DPRD dengan Dirjen Perkebunan di Jakarta (21/4) menyebutkan jika kopi Bali khususnya asal Kintamani sudah dikontrak eksportir. Menariknya, mereka membeli kopi Bali tersebut sebelum panen berlangsung, seharga Rp. 35.000/kg. Biji kopi pilihan tersebut akan dikirim ke Jepang. 

Setiap tahunnya produksi kopi Kintamani di Pulau Bali mencapai 3.200 ton. Namun tahun ini produksinya kemungkinan merosot menjadi 2.500 ton akibat anomaly cuaca. Demikian ditambahkannya

Kopi arabika ini disukai tidak lepas dari rasa dan aromannya yang khas. Kopi Kintamani merupakan kopi specialty yang biji digunakan menghasilkan seduhan kopi eksklusif di café-café lux di mancanegara. 

Untuk bibit, menurut Kadisbun Prov Bali, di Pulau Dewata tersebut terdapat 10 ha KI. Bagi yang berminat mendapatkan benih unggul Kopi Kintamani bisa memperolehnya dari sumber benih tersebut