Rabu, 10 Juli 2013

Coffee Packaging

http://www.coffeeanalysts.com

Freshness is a major determinant of roasted coffee quality and consumer satisfaction. The rate of coffee staling will depend upon the amount of contact with oxygen. Conditions of heat and added moisture will accelerate staling. Moisture-resistant sealed packaging with a minimum of oxygen content is the key to coffee shelf life.

Kesegaran merupakan penentu utama kualitas kopi panggang dan kepuasan konsumen. Tingkat kopi basi akan tergantung pada jumlah kontak dengan oksigen. Kondisi panas dan kelembaban tambah akan mempercepat basi. Segel kemasan dengan minimal kandungan oksigen adalah kunci untuk kehidupan rak kopi.

--------------------------

Staling of coffee occurs gradually as the result of numerous chemical processes affecting the coffee at different rates. The actual amount of time in which these processes take place will depend upon the state of the coffee (whole bean or ground) and conditions of storage (amount of oxygen contact, heat, moisture, and light).

Kopi basi terjadi secara bertahap sebagai hasil dari berbagai proses kimia yang mempengaruhi kopi pada tingkat yang berbeda. Jumlah sebenarnya waktu di mana proses ini berlangsung akan tergantung pada keadaan kopi dan kondisi penyimpanan (jumlah kontak oksigen, panas, kelembaban, dan cahaya).

---------------------------

Jenis Kemasan


One Way Valve Bag

Setiap jumlah oksigen yang diserap oleh kopi akhirnya mengyebabkan kopi menjadi basi. Namun, sebagai hasil dari reaksi gula browning selama pemanggangan, kopi yang baru dipanggang memancarkan karbon dioksida sampai seminggu dalam bentuk ROASTED BEAN keseluruhannya. Untuk alasan ini, kopi kualitas tertinggi biasanya dikemas sesegera mungkin setelah dipanggang dalam kemasan dilaminasi berisi katup satu arah. Katup ini memungkinkan karbon dioksida untuk melarikan diri, tetapi tidak memungkinkan oksigen untuk masuk.


Tidak ada Katup (Tanpa One Way Valve)

Jika kopi yang akan dikemas tidak menggunakan katup (termasuk fraksional dikemas kopi darat), kopi harus beristirahat ("degas" - dihilangkan gasnya) sebelum dikemas. Ini akan mengambil beberapa oksigen selama proses degassing yang akan membatasi umur simpan, tetapi sebaliknya tas akan membengkak dan mungkin pecah, mengekspos kopi untuk tingkat ambien oksigen.

Kandungan oksigen tidak lebih dari 3% dalam paket disarankan. Untuk memastikan kesegaran pada tahap minuman, sebuah "digunakan oleh" yang tercetak pada tas serta nomor kalender Julian dicetak pada kasus untuk kepentingan pengecer mungkin diinginkan. Jika kopi bubuk dikemas untuk melayani individu, berat kopi per paket dapat diukur (lihat "Air ke Coffee Ratio" dalam "Brewing" bagian berikut). Sebenarnya "penggunaan oleh" tanggal tergantung pada standar dari pabrikan.




Kopi Drip Keren



Jumat, 24 Mei 2013

Acuan Harga Kopi Dunia Ada di Bursa RI?

Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) optimis kontrak komoditi kopi dapat masuk dan berjalan di bursa berjangka komoditi di Indonesia. Menurut Wakil Ketua Umum Bidang Spesialis dan Industri AEKI, Pranoto Soenarto,Indonesia akan mampu memboyong produk biji bahan bubuk minuman itu ke dalam bursa berjangka.
 
“Kami berusaha mengajak pemain kopi Vietnam untuk bermain berjangka di Indonesia, kami optimis dan berharap pusatnya Indonesia," kata Pranoto Soenarto, di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Pranoto, Vietnam sebagai produsen kedua terbesar setelah Brazil, tidak melakukan perdagangan khusus di bursa berjangka global. Padahal, negara indocina itu merupakan pemain kopi robusta besar yang berpotensi menjadi penentu harga perdagangan internasional.

"Kalau Vietnam setuju [bertransaksi di bursa berjangka di Indonesia) maka bisa back up sekitar 1,6-1,7 juta ton dengan punya kita 700 ton. Nah,  kalau digabung jadi besar dan bisa jadi leader bahkan patokan harga juga," tambahnya.

Untuk itu, Pranoto berharap dukungan pemerintah terkait dengan penentuan standar kualitas kopi dan kebijakan yang mendukung kontrak berjangka kopi. “Apalagi

Indonesia sebagai penyetor robusta memiliki potensi untuk menggiring harga global,”  kata Pranoto.
Seperti diberitakan margind.com sebelumnya, Jakarta Futures Exchange (JFX) direncanakan meluncurkan kontrak komodoti kopi, batubaradan karet pada tahun 2013.  “Target  JFX pada 2013 akan meluncurkan kontrak berjangka komoditi batubara, karet dan kopi,” kata Direktur JFX, Bihar Sakti Wibowo kepada margind.com, Akhir tahun lalu

Kopi Spesial Indonesia Menjadi Primadona di Amerika Serikat

Amerika Serikat merupakan salah satu negara tujuan utama ekspor kopi spesial (Specialty coffee) Indonesia. Kopi dengan cita rasa khas dari daerah tertentu di Indonesia dan cukup terkenal di dunia itu antara lain kopi Takengon Aceh, kopi Mandailing Sumatera Utara, kopi Toraja Sulawesi Selatan, kopi Kintamani Bali, kopi Bajawa Flores, kopi Baliem Papua, dan kopi Luwak Jawa.


Hal tersebut diungkap oleh Wakil Ketua Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), Pranoto Soenarto saat berlangsungnya kontes Kopi Spesial Indonesia di Kuta Bali, Senin ( 22/10/12).

Menurut Pranoto, dari 180.000 ton per tahun ekspor specialty coffee Indonesia, 20 persennya di ekspor ke Amerika Serikat.

Sedangkan negara lain yang menjadi tujuan ekspor kopi spesial Indonesia adalah Australia, Jepang dan Jerman.

Specialty coffee Indonesia sangat diminati karena bercita rasa khas Indonesia seperti rasa rempah-rempah, dimana rasa rempah-rempahnya berasal dari penyerbukan bunga kopi. Hal itu terjadi karena sebagian besar perkebunan kopi di Indonesia berdekatan dengan kebun rempah-rempah.

“yang pasti rasanya rempah-rempah, macam-macam bunga dari kopi kita itu berasal dari masing-masing tempat memiliki varian yang berbeda-beda. Rasanya sangat nikmat karena ditentukan dari kultur tanah, ketinggian dan banyaknya gunung berapi di Indonesia,” papar Pranoto Soenarto.


Secara umum hampir 100 persen produksi kopi arabika Indonesia adalah jenis specialty coffee dan harganya 5 kali lebih tinggi dari kopi robusta.  Saat ini harga rata-rata specialty coffee antara 8-11 dolar per kilogram.

Sementara itu, Komisaris Utama PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) XII, Delima Azhari mengemukakan kepada Jia Xiang Hometown bahwa tantangan terbesar dalam mengembangkan kopi spesial Indonesia adalah peningkatan produksinya. Sekarang produksi kopi spesial Indonesia sangat rendah yaitu sekitar 0,7 ton per hektar per tahun. Padahal jika produksi dikembangkan dengan optimal bisa mencapai 1 ton per hektar per tahun.

Selain itu tantangan dalam mengembangkan specialty coffee Indonesia adalah menjaga kualitas karena kopi spesial yang tumbuh di kawasan tertentu tidak dapat berkembang maksimal bila ditanam di kawasan berbeda.

Kasubdit Promosi Luar Negeri Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian, Nyoman Widhi Adnyana mengatakan bahwa  selama ini hampir 90 persen perkebunan kopi di Indonesia masih dikelola dalam bentuk perkebunan skala kecil dan pengetahuan petani tentang specialty coffee juga masih terbatas.

Indonesia saat ini menjadi penghasil kopi terbesar ketiga setelah Brasil, dan Vietnam . Total produksi kopi di Indonesia pertahun rata-rata 700.000 ton dan volume ekspor per tahun mencapai 400.000 ton.

Tahun ini ekspor kopi Indonesia ditargetkan 1,2 miliar dolar AS dengan volume produksi keseluruhan kopi robusta dan arabika sekitar 900 ribu ton. [JX/Dearna]

Pengembangan Lahan Menjadi Kendala Investasi Kopi

liputanBISNIS (JAKARTA) – Minimnya pengembangan lahan menjadi salah satu kendala penambahan investasi kopi di Indonesia dan komoditas tersebut menjadi sumber penghasil devisa negara.

“Untuk tahun ini, para produsen kopi pesimistis untuk menambah investasi karena kurangnya lahan yang menjadi perebutan di komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, kakao, dan gula,” kata Ketua Kompartemen Speciality Coffee Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Pranoto Soenarto di Jakarta, Selasa (22/1/2013).

Pelaku usaha kopi, menurut Pranoto, mengusulkan untuk menambah pengembangan kebun kopi di daerah-daerah tertentu seperti Sulawesi, Jawa, dan Sumatera.

“Kebun kopi yang ada saat ini untuk jenis robusta berada di daerah Sumatera Selatan, Jawa Timur, dan NTB. Sementara kopi jenis arabica dikembangkan di daerah Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jayapura,” paparnya.

Pemerintah menargetkan produksi kopi tahun ini naik 16% menjadi 763.000 ton dibanding 2012 sebesar 657.138 ton.

Realisasi produksi kopi nasional tahun lalu memang lebih rendah dari target yang ditetapkan karena faktor cuaca.[int/winsah]

Produksi Kopi RI Masih Kalah Jauh Dibanding Vietnam

Maret 2013

BISNIS (JAKARTA) — Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan mengaku luasnya lahan yang digunakan untuk memproduksi kopi tidak sebanding dengan produktivitas yang dihasilkan. Indonesia masih kalah jauh dengan negara-negara tetangga, seperti Vietnam.

Gita menjelaskan, luas lahan Indonesia yang ditanami kopi mencapai 1,1 juta hektare tapi hanya menghasilkan 600 ribu ton biji kopi atau setara 700-900 gram biji kopi per hektare. Sedangkan Vietnam, menggunakan lahan kurang dari 50 persen Indonesia namun mampu menghasilkan 1,2 juta ton biji kopi. “Indonesia masih tertinggal jauh,” kata dia, Rabu (20/3).

Untuk itu, Gita mendorong agar Indonesia dapat menjadi salah satu pengekspor kopi terbesar, minimal di Asia Tenggara mengalahkan Vietnam. Indonesia dikenal dengan kualitas kopi yang baik, bahkan 10 varietas unggul kopi dunia ada di Indonesia. “Seperti kopi Java dan Toraja, telah menjadi primadona konsumen kopi dunia,” kata mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal ini.

Ia minta seluruh pemangku kepentingan bisa meningkatkan industri dan teknologi pasca-panen. Terlebih, Jawa Timur yang menjadi salah satu barometer industri kopi nasional.

Gita juga meminta kawasan segitiga emas produsen kopi, yaitu Banyuwangi-Malang-Bondowoso di Jawa Timur mampu menjadi sentra kopi nasional selain Bengkulu, Lampung, dan Sumatra Selatan. Saat ini, produksi kopi Jawa Timur mampu memenuhi 30 persen kebutuhan kopi nasional.

Sementara itu, Ketua Gabungan Eksportir Kopi Indonesia Hutama Sugandhi mengatakan Indonesia punya potensi besar di industri kopi namun belum sepenuhnya digarap. “Peran pemerintah sangat dibutuhkan guna peningkatan industri kopi,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa sampai saat ini, infrastruktur berbanding lahan tidak seimbang karena petani kopi Indonesia masih menggunakan cara tradisional. (int/ridho)

Curah Hujan Tinggi, Ganggu Produksi Kopi Nasional

January 22, 2013

liputanBISNIS (JAKARTA) – Curah hujan yang tinggi dikhawatirkan mengganggu produksi kopi nasional pada musim panen kedua yang jatuh bulan Maret 2013 dan menurunkan target hingga akhir tahun.

“Dengan intensitas hujan yang cukup tinggi, membuat produksi kopi nasional menjadi terganggu. Diperkirakan target produksi kopi nasional hingga akhir tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu sebesar 720.000 ton,” kata Ketua Kompartemen Speciality Coffee Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Pranoto Soenarto di Jakarta, Selasa (22/1/2013).

Beberapa tantangan yang akan dihadapi pada 2013, menurut Pranoto, karena permainan harga di bursa komoditas New York dan permintaan kopi dunia terus naik akan tetapi tidak diiringi dengan suplai yang memadai.

“Di pasar dunia, kopi jenis Arabica mengalami penurunan suplai hingga minus 4%-5%, sementara kopi jenis robusta mengalami surplus pasokan sekitar 4%-5%. Walaupun kopi jenis robusta mengalami surplus, kopi tersebut tidak dapat bertahan lama dengan semakin tingginya permintaan dunia terhadap jenis kopi tersebut,” paparnya.

Pranoto menambahkan, produsen kopi juga dihadapkan pada kendala pemalsuan kopi luwak.
“Saat ini, beberapa negara melakukan tindakan pemalsuan enzim luwak. Hal ini sangat merugikan produsen kopi luwak,” tandasnya.[int/winsah]